Jumat, 18 Juli 2014

Sad Beautiful Tragic




Aku melihat bayangmu menjauh dalam gelap. Berjalan di tengah kesepian yang semakin pekat. Langkahmu dengan pasti meninggalkanku. Sendiri. Sunyi.


Angin berhembus menerbangkan harapan. Harapanku terbang. Menjauh dan hilang seiring jejak langkah yang terhapus oleh hujan. Harapan yang aku simpan dalam diam. Harapan yang perlahan kutimbun untukmu. Harapan yang membuatku bertahan.
                

Tapi kamu hanya tersenyum dari kejauhan. Enggan mendekat lagi. Begitupun aku. Langkah kakiku kaku. Tak bisa berjalan. Seperti di paku, aku hanya bisa menatapmu balik. Memohon agar kamu menahan langkah kaki yang akan membuatmu jauh dariku. Tapi tidak, kamu tetap berjalan.

                Lalu aku.. terdiam. Berteman sunyi, aku diam. Ntah apa yang kufikirkan, tapi kurasa hidup tak lagi menyenangkan. Tak lagi berwarna. Dan tak lagi.. bermakna.

                Hai kamu. Bolehkah aku meminta? Permintaan sederhana. Sesederhana ketika kamu tertawa untuk sesuatu yang lucu. Sesederhana api yang membakar kayu dan merubahnya menjadi abu. Iya. Sesederhana itu.

                Maukah kau bertahan untukku?

                Maukah kau mempertahankanku?

                Maukah kau melangkah bersamaku?

                Maukah.. kini kau yang menungguku?

                Menunggu ya, tak apa jika kamu tak mau. Aku tahu itu berat. Tapi.. aku melakukannya. Aku menunggumu. Aku menunggu punggungmu berbalik dengan sabar. Aku menunggumu menyadari keberadaanku dengan sejuta harap disetiap harinya. Aku menunggumu untuk sekedar menoleh ke arahku kemudian tersenyum. Aku menunggumu untuk sekedar memanggil namaku.

                Dan ketika semua itu terjadi, kau tahu betapa bahagianya aku? Saat aku tahu kau mulai menoleh ke arahku dan memanggil namaku. Saat kau mulai tersenyum. Saat kau mulai merubah duniaku menjadi lebih baik.

                Ini indah.. tapi juga menyakitkan. Pada faktanya, aku tahu kau tak berbalik. Hanya menoleh. Hanya melihat sekilas seseorang yang berdiri dengan sejuta perasaan di belakangmu. Iya. Itu aku.

                Kau hanya memastikan aku baik-baik saja dengan semua perasaan ini kan? Kau mau tahu? Aku-tidak-baik-baik-saja.


                Ini indah.. tapi menyakitkan. Saat kulihat langkahmu kembali menjauh. Saat kulihat kau tak lagi menoleh dan tersenyum untukku. Saat kau tak lagi memanggil namaku. Saat akhirnya, kembali aku hanya melihat punggungmu.


                Kurasa memang baiknya seperti ini. Kau berjalan di depanku, dan aku dibalik punggungmu. Mendoakanmu dalam diam, tersenyum untukmu dalam diam, dan bertahan untukmu dalam diam.

jadi, kapan kau akan berniat untuk benar-benar berbalik?

0 komentar:

Posting Komentar