Aku melihat bayangmu menjauh
dalam gelap. Berjalan di tengah kesepian yang semakin pekat. Langkahmu dengan
pasti meninggalkanku. Sendiri. Sunyi.
Angin berhembus menerbangkan
harapan. Harapanku terbang. Menjauh dan hilang seiring jejak langkah yang
terhapus oleh hujan. Harapan yang aku simpan dalam diam. Harapan yang perlahan
kutimbun untukmu. Harapan yang membuatku bertahan.
Tapi kamu
hanya tersenyum dari kejauhan. Enggan mendekat lagi. Begitupun aku. Langkah kakiku
kaku. Tak bisa berjalan. Seperti di paku, aku hanya bisa menatapmu balik. Memohon
agar kamu menahan langkah kaki yang akan membuatmu jauh dariku. Tapi tidak,
kamu tetap berjalan.
Lalu aku..
terdiam. Berteman sunyi, aku diam. Ntah apa yang kufikirkan, tapi kurasa hidup
tak lagi menyenangkan. Tak lagi berwarna. Dan tak lagi.. bermakna.
Hai kamu.
Bolehkah aku meminta? Permintaan sederhana. Sesederhana ketika kamu tertawa
untuk sesuatu yang lucu. Sesederhana api yang membakar kayu dan merubahnya
menjadi abu. Iya. Sesederhana itu.
Maukah kau
bertahan untukku?
Maukah kau
mempertahankanku?
Maukah kau
melangkah bersamaku?
Maukah..
kini kau yang menungguku?
Menunggu
ya, tak apa jika kamu tak mau. Aku tahu itu berat. Tapi.. aku melakukannya. Aku
menunggumu. Aku menunggu punggungmu berbalik dengan sabar. Aku menunggumu
menyadari keberadaanku dengan sejuta harap disetiap harinya. Aku menunggumu
untuk sekedar menoleh ke arahku kemudian tersenyum. Aku menunggumu untuk
sekedar memanggil namaku.
Dan ketika
semua itu terjadi, kau tahu betapa bahagianya aku? Saat aku tahu kau mulai
menoleh ke arahku dan memanggil namaku. Saat kau mulai tersenyum. Saat kau
mulai merubah duniaku menjadi lebih baik.
Ini indah..
tapi juga menyakitkan. Pada faktanya, aku tahu kau tak berbalik. Hanya menoleh.
Hanya melihat sekilas seseorang yang berdiri dengan sejuta perasaan di
belakangmu. Iya. Itu aku.
Kau
hanya memastikan aku baik-baik saja dengan semua perasaan ini kan? Kau mau
tahu? Aku-tidak-baik-baik-saja.
Ini indah..
tapi menyakitkan. Saat kulihat langkahmu kembali menjauh. Saat kulihat kau tak
lagi menoleh dan tersenyum untukku. Saat kau tak lagi memanggil namaku. Saat akhirnya,
kembali aku hanya melihat punggungmu.
Kurasa memang
baiknya seperti ini. Kau berjalan di depanku, dan aku dibalik punggungmu. Mendoakanmu
dalam diam, tersenyum untukmu dalam diam, dan bertahan untukmu dalam diam.
jadi, kapan kau akan berniat untuk benar-benar berbalik?
.jpg)






0 komentar:
Posting Komentar