Aku menatap langit yang mulai menghitam. Bersama
lampu yang cahayanya temaram, aku bersimpuh. Menyerah terhadap perjalanan ini.
Menyerah terhadap apa yang selama ini kupendam sendiri. Menyerah terhadap
keadaan.
Aku
lelah, Bintang.
Aku
lelah terhadap rasaku padamu. Maafkan, tapi aku benar-benar menyerah terhadap
semuanya. Aku menyerah untuk mengingkari takdirku sendiri. Aku lelah berjalan
memutar yang akhirnya, membuat semuanya tetap seperti ini tanpa berubah
sedikitpun.
Aku
lelah, Bintang.
Aku
lelah menyimpan semua ini sendiri. Aku lelah mempertahankanmu untuk menjadi
yang paling atas di hatiku. Aku letih jika harus menelan pil pahit itu
berkali-kali. Aku.. lelah merasakan sakit yang sama berulang-ulang.
Bintang,
malam ini, dihadapanmu, aku lelah untuk berpura-pura kuat. Aku tak malu
menangis. Karena memang ini akhirnya. Air mata ini pertahanan terakhirku. Aku
memang lemah. Sejak dulu. Tapi untukmu, aku akan selalu kelihatan tegar.
Bintang,
pernah dengar perumpamaan ‘Jodoh Pasti Bertemu’? iya, aku percaya. Dulu. Aku
kira, takdir mempertemukanku denganmu karena kita memang ‘ditakdirkan’ bertemu.
Tapi, aku salah. Aku salah, Ntang. Tuhan, membuat kejutan untuk kita. Tuhan,
mempertemukanku denganmu karena memang begitu. Dia menuliskan begitu. Kita
hanya bertemu, tanpa bisa berbuat lebih jauh. Iya, kau tahu kan? Takdir kita
hanya bersinggungan.
Aku
kira, dulu. Kita akan melangkah berdua. Berjalan bersama menyusuri jalan yang
memang sengaja tercipta untuk kita. Tapi lagi-lagi aku salah, Ntang. Kita
memang berjalan bersama. Melangkah seirama. Tapi pada jalan yang berbeda. Kamu
dengan jalanmu, dan aku pada jalanku. Searah, tapi tak sama.
Salahku.
Ini memang salahku, Ntang. Salahku yang memilih diam dengan perasaan ini.
Salahku untuk tak memberitahumu. Salahku yang terlalu nyaman menyimpan rindu
ini sendirian. Salahku untuk tak membaginya padamu. Salahku, yang terlalu
egois. Iya, ini salahku.
Aku
tak pernah berharap takdir kita akan menyimpang. Aku tak pernah berharap Tuhan
akan menggariskan jalan yang berbeda untuk kita. Aku tak pernah menyangka waktu
kita sependek ini. Aku tak berharap bahwa takdir membawamu menjauh dariku. Jauh
sejauh-jauhnya hingga mungkin tak dapat kugapai lagi.
Ntang,
kamu liat aku kan diatas sana? Kamu liat aku lagi nangis kan sekarang? Kamu
sekarang tahu kan, betapa aku rapuh tanpa kamu? Betapa topeng tegar itu aku
lepas sekarang setelah bertahun-tahun aku memakainya. Ntang.... aku ingin
melepasmu.
Ntang,
Maafin aku yang akhirnya menyerah. Maafin aku yang ga bisa lagi mempertahankanmu
di hati. Maafin aku yang tak akan mengukir namamu lagi.
Ntang, izinkan aku untuk membuka
lembar baru ini. Lembar kehidupanku kali ini. lembar pertama hidupku yang akan
kuisi tanpa namamu. Tanpa bersama bayangmu lagi. Izinkan aku untuk menutup buku
lama itu. Buku lama dengan kamu, dan segala kenangan tentangmu di dalamnya.
Buku lama tentang kita.
Ntang,
aku merindukanmu untuk terakhir kalinya.
P.S : Surat
ini ditulis sambil mengenang dua tahun kepergianmu yang tiba-tiba, Ntang.
Semoga kamu mengerti mengapa aku menyerah sekarang. Tetap menjadi Bintang
dilangit ya, Ntang.







0 komentar:
Posting Komentar