Sabtu, 08 Maret 2014

Surat untuk Bintang



Aku menatap langit yang mulai menghitam. Bersama lampu yang cahayanya temaram, aku bersimpuh. Menyerah terhadap perjalanan ini. Menyerah terhadap apa yang selama ini kupendam sendiri. Menyerah terhadap keadaan.
            Aku lelah, Bintang.
            Aku lelah terhadap rasaku padamu. Maafkan, tapi aku benar-benar menyerah terhadap semuanya. Aku menyerah untuk mengingkari takdirku sendiri. Aku lelah berjalan memutar yang akhirnya, membuat semuanya tetap seperti ini tanpa berubah sedikitpun.
            Aku lelah, Bintang.
            Aku lelah menyimpan semua ini sendiri. Aku lelah mempertahankanmu untuk menjadi yang paling atas di hatiku. Aku letih jika harus menelan pil pahit itu berkali-kali. Aku.. lelah merasakan sakit yang sama berulang-ulang.
            Bintang, malam ini, dihadapanmu, aku lelah untuk berpura-pura kuat. Aku tak malu menangis. Karena memang ini akhirnya. Air mata ini pertahanan terakhirku. Aku memang lemah. Sejak dulu. Tapi untukmu, aku akan selalu kelihatan tegar.
            Bintang, pernah dengar perumpamaan ‘Jodoh Pasti Bertemu’? iya, aku percaya. Dulu. Aku kira, takdir mempertemukanku denganmu karena kita memang ‘ditakdirkan’ bertemu. Tapi, aku salah. Aku salah, Ntang. Tuhan, membuat kejutan untuk kita. Tuhan, mempertemukanku denganmu karena memang begitu. Dia menuliskan begitu. Kita hanya bertemu, tanpa bisa berbuat lebih jauh. Iya, kau tahu kan? Takdir kita hanya bersinggungan.
            Aku kira, dulu. Kita akan melangkah berdua. Berjalan bersama menyusuri jalan yang memang sengaja tercipta untuk kita. Tapi lagi-lagi aku salah, Ntang. Kita memang berjalan bersama. Melangkah seirama. Tapi pada jalan yang berbeda. Kamu dengan jalanmu, dan aku pada jalanku. Searah, tapi tak sama.
            Salahku. Ini memang salahku, Ntang. Salahku yang memilih diam dengan perasaan ini. Salahku untuk tak memberitahumu. Salahku yang terlalu nyaman menyimpan rindu ini sendirian. Salahku untuk tak membaginya padamu. Salahku, yang terlalu egois. Iya, ini salahku.
            Aku tak pernah berharap takdir kita akan menyimpang. Aku tak pernah berharap Tuhan akan menggariskan jalan yang berbeda untuk kita. Aku tak pernah menyangka waktu kita sependek ini. Aku tak berharap bahwa takdir membawamu menjauh dariku. Jauh sejauh-jauhnya hingga mungkin tak dapat kugapai lagi.
            Ntang, kamu liat aku kan diatas sana? Kamu liat aku lagi nangis kan sekarang? Kamu sekarang tahu kan, betapa aku rapuh tanpa kamu? Betapa topeng tegar itu aku lepas sekarang setelah bertahun-tahun aku memakainya. Ntang.... aku ingin melepasmu.
            Ntang, Maafin aku yang akhirnya menyerah. Maafin aku yang ga bisa lagi mempertahankanmu di hati. Maafin aku yang tak akan mengukir namamu lagi.
                        Ntang, izinkan aku untuk membuka lembar baru ini. Lembar kehidupanku kali ini. lembar pertama hidupku yang akan kuisi tanpa namamu. Tanpa bersama bayangmu lagi. Izinkan aku untuk menutup buku lama itu. Buku lama dengan kamu, dan segala kenangan tentangmu di dalamnya. Buku lama tentang kita.
            Ntang, aku merindukanmu untuk terakhir kalinya.

P.S : Surat ini ditulis sambil mengenang dua tahun kepergianmu yang tiba-tiba, Ntang. Semoga kamu mengerti mengapa aku menyerah sekarang. Tetap menjadi Bintang dilangit ya, Ntang.

0 komentar:

Posting Komentar