Minggu, 06 Juli 2014

Unrequited Love [Short Story]



Bagaimana rasanya tidak terlihat?

                     Aku menghela nafas panjang dan berkali-kali. Berusaha mengurangi rasa sesak di hati. Mati-matian aku menahan air mata yang ingin meluncur turun. Tapi rasanya, aku tidak bisa.

                     Rasanya masih sakit. Sesak. Aku bahkan merasa aku tidak bisa bernafas saat ini. Sepertinya, semua oksigen mendadak lenyap dari bumi. Kenapa bisa begini?

                     Aku melemparkan pandangan keluar jendela. Menatap bangunan-bangunan rumah yang terlihat mengecil dari ketinggian. Iya, aku sedang berada di lantai 7 di fakultasku. Hari ini memang libur, dan aku menerobos masuk ke lantai 7 secara mengendap-ngendap. Sukses!

                     Jangan tanya kenapa aku berada disini sekarang. Aku hanya.. butuh tempat sendiri. Tempat dimana aku bisa berfikir ulang tentang semua yang aku lakukan. Duniaku terlalu ramai. Tapi biar begitu, rasanya masih sepi. Bahkan aku mengakui kalo ini terlalu sepi. Mereka semua ada saat mereka membutuhkanku. Tapi saat aku membutuhkan mereka.. ya kamu tahu sendirilah.

                     Dan menurutku, lantai 7 fakultas ini menjadi tempat favorite kedua setelah danau. Aku sangat suka berada di danau. Rasanya tenang. Melihat air bergerak pelan. Tapi mana mungkin aku berkunjung kesana saat libur begini? Bisa-bisa acara menyendiri ini menjadi tidak menarik.

                     Aku kembali menghela nafas ketika angin berhembus mengenai wajahku. Rasanya, jika sendiri seperti ini, aku benar-benar menyedihkan. Seperti tak ada tempat untukku berpegangan. Aku ingin berteriak dari lantai 7 ini. Tapi jika itu kulakukan.. aku akan ketauan satpam.

                     Oh iya. Apa kamu pernah menyukai seseorang?

                     Apa kamu pernah menyukai seseorang sampai.. rasanya kamu sanggup menanggung semua rasa sakit yang diakibatkan olehnya? Apa kamu pernah merasakan menyukai seseorang sampai kamu rasanya ingin terus selau melihat dia bahagia walau tak bersama kamu? Apa kamu pernah menyukai seseorang, walau hanya melihat punggungnya dari kejauhan itu sudah cukup?

Apa pernah?

Aku merasakannya sekarang.

                     Merasakan bagaimana rasanya melihat dia yang walau hanya punggungnya saja bisa membuatku bahagia. Merasakan bagaimana suara langkahnya saja membuat jantungku berpindah. Yah, seperti itulah.

                     Jangan berfikir ini kisah yang menyenangkan. Tidak. Justru sebaliknya.

                     Aku fikir, awalnya ini hanya sebuah rasa penasaran. Penasaran akan sosoknya yang menurutku terlihat baik. Dia mempunyai aura yang berbeda dengan semua orang yang aku lihat. Aura teduh. Iya. Karena setiap aku melihatnya, rasanya semua emosiku sirna. Dia bisa menenangkanku secara tidak langsung hanya karena menatapnya. Hebat kan?

Tapi satu masalahnya..

Ketika aku sadar ini bukan rasa penasaran lagi..

Dan saat sadar, dia tak mungkin dimiliki.

                     Sedih memang. Tapi.. rasanya.. aku bahkan tak bisa mendeksripsikannya. Ini seperti kamu melakukan sesuatu yang kamu sukai dan tak peduli apa balasan yang kamu dapatkan. Selama kamu senang, maka itu akan baik-bak saja. Iya, seperti itu.

“Kenapa lo ga lupain aja elah.” Sheryl bertanya sambil memandangku. Sementara aku yang 
sedang meminum es teh manis, tersedak sedikit lalu cepat-cepat menepuk dadaku sendiri.

“Apa maksudnya?”

“Iya. Elo lupain itu Ka Axel. Ga capek?”

“HAHAHA. Ngga ah. Gue kan maunya ama dia.” Ucapku ngawur.

“Tapi pertanyaannya, emangnya dia mau sama lo?”

Jleb.

Saat itu aku memang hanya tertawa. Menganggap itu sebuah lelucon belaka. Tapi tanpa sadar hatiku membenarkan semuanya. Rasanya, aku terlalu memaksakan. Memaksa diriku sendiri lebih 
tepatnya.

Tapi.. melupakan tak bisa semudah itu kan?

                     Jangan dikira, aku tak mencoba. Berapa kali-pun aku mencoba, berapa kali itu juga 
aku gagal. Iya. Sebel ga sih? Saat udah niat ngelupain, ada aja kejadian yang bikin runtuh. Bikin tembok yang udah dibangun dengan susah payah itu hancur dalam sekali tendang.
Iya. Contohnya saat disapa.

                     Entah mimpi apa aku semalem, tapi pagi ini aku ngerasa sial. Udah kelewat sholat subuh, aku dapet parkiran jauh dari fakultas. Ya intinya sih aku kesiangan.

                     Saat itu aku mengendap-endap masuk pintu fakultas. Seperti maling, aku tengok kanan kiri dulu sebelum masuk. Memastikan bahwa sosoknya tak ada dimanapun.

“Aman!” sambutku girang lalu berjalan ke arah lift dengan santai dan menunggu di depan pintu 
lift yang sedang bergerak turun.

Dan saat itulah sosoknya masuk. Seperti radar, aku langsung refleks menengok ke arahnya. 
Mulutku menganga sempurna. Ini kacau!

“Naik lift sebelah sana aja gih!” gumamku dalam hati. aku merutuk. Kenapa lift ini lama banget sih turunnya?!

Tanpa sadar, aku melirik lagi. Dan melihatnya berjalan ke arah lift di sisi aku menunggu.

Oh, tidak. Ini buruk. Kiamat sudah..

                     Aku meremas-remas jemari tanganku. Gugup. Berharap tembok yang aku bangun tak lagi runtuh. Kurasakan dia berdiri di belakangku. Ah sial!

“Mata kuliah apa El?”

Tunggu! Itu suaranya? Dia menanyaiku ya?

                     Otomatis aku memutar tubuh, lalu tersenyum canggung. Masa iya sih aku mau pura-pura tak mendengarnya padahal ia sudah bertanya padaku? Oh, Bumi. Tolong telan aku!

                     Sesaat pikiranku kosong. Aku mata kuliah apasih hari ini? Ya tuhan! Kenapa aku malah terlihat ngga banget di depannya. Ampuni hamba.

“Ngg.. emm.. itu, Ka, ngg.. Bahasa indonesia. Hehe.”

Jawaban bodoh.

Dia manggut manggut sebentar, “Dosennya siapa? Bu Gina yah?”

Mampus! Siapa lagi Bu Gina?

“Hah? Oh bukan ka. Bu Jean yang ngajar. Hehehe.”

“Loh bukan bu Gea ya?”

Aku menggeleng. Masih berusaha tersenyum. Rasanya aku ingin lari. Kapan ini berakhir sih?

                     Beruntungnya saat itu temannya datang dan pintu lift mendadak terbuka. Bingo!


+++

                     Kejadiannya memang sudah lama. Tapi aku masih mengingat kala aku tersenyum sepanjang lorong sampai kelas. Dan dengan lancarnya menceritakan dengan teman-temanku.

“Jadi elo disapa? Wuaah!” Temanku hampir berteriak. Membuatku terpaksa membekap mulutnya.

“Toa banget sih!”

“Eh tapi, El. Kalo dia nyapa elo pake nama berarti dia kenal elo ya?”

“Gue aja ga nyangka. Gila.” Jawabku sambil menggeleng-gelengkan kepala.

 “Berarti kalo gitu.. jangan jangan dia udah tau perasaan lo?”

Tunggu..

Benar juga!

“Eh iya ya? Ah gilagila inimah gue mati. Aaakk mamaaah!”

                Begitulah. Dan akhirnya tembok itu hancur lagi.

                Tapi masalah berikutnya, sepertinya ini akan menjadi perasaan yang bertepuk sebelah tangan.

                Aku tak menyalahkannya sungguh. Ini kan salahku sendiri. Aku sadar, kalau ini akan menjadi sesuatu yang menyakitkan dan aku tetap melakukannya. Jadi ini bukan salahnya kan?

                Aku yang terlalu berharap. Aku yang terlalu melangkah terlalu jauh.

                Tadinya aku fikir, ini tak menyakitkan lagi jika tak dirasakan. Tapi tidak, ini tetap 
menyakitkan. Seberapa tulus-pun aku melakukannya. Ini tetap menyakitkan.

                Saat kamu selalu memandangnya tapi dia tak pernah melihat ke arahmu. Saat kamu 
menjadi tak terlihat di sekitarnya. Saat kamu seperti kerikil yang menghalangi jalannya.

                Menyakitkan kan?

                Rasanya lelah berjalan sendirian. Rasanya tak ada gunanya lagi untuk sekedar menunggu. Toh percuma saja kan? Semuanya akan tetap seperti ini. Tak berubah.

                Jadi buat apa aku repot-repot untuk tetap berdiri disisi ini? disisi dimana aku selalu memandangnya tapi dia tak pernah memandangku balik?



Di sisi, dimana aku tahu semua ini tak kan berbalas seberapun aku mencoba.

2 komentar: